• 081243382335
  • min1pohuwato@gmail.com

MIN 1 Pohuwato Biasakan Shalat Dhuha Berjamaah, Miskina Gusu Ingatkan Bahaya Perundungan

MIN 1 Pohuwato Biasakan Shalat Dhuha Berjamaah, Miskina Gusu Ingatkan Bahaya Perundungan

Gambar : Tausyiah Keagamaan: Guru Fikih MIN 1 Pohuwato, Miskina Gusu, menyampaikan tausyiah tentang pentingnya menjaga adab, saling menghormati, serta menghindari tindakan perundungan di lingkungan madrasah.

MIN 1 Pohuwato Biasakan Shalat Dhuha Berjamaah, Miskina Gusu Ingatkan Bahaya Perundungan

POHUWATO (min1pohuwato.sch.id) – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pohuwato kembali melaksanakan kegiatan salat Dhuha berjamaah pada Jumat pagi (06/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman madrasah tersebut diikuti seluruh peserta didik kelas I hingga VI bersama dewan guru staf tata usaha.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Dhuha berjamaah yang berlangsung tertib dan khusyuk. Setelah itu, peserta didik mengikuti murojaah Juz 30 bersama yang dipandu oleh Guru Bahasa Arab MIN 1 Pohuwato, Rahmat Dunggio.

Usai salat Dhuha dan murojaah, kegiatan dilanjutkan dengan tausyiah keagamaan yang disampaikan oleh Guru Fikih MIN 1 Pohuwato, Miskina Gusu. Dalam penyampaiannya, ia mengangkat persoalan perundungan atau bullying yang dapat terjadi di lingkungan pertemanan, termasuk melalui tindakan yang kerap dianggap sekadar candaan.

“Kita sering menemukan berbagai pemberitaan di media sosial mengenai anak-anak yang mengalami tekanan psikologis akibat perundungan. Bahkan, dalam sejumlah kasus, tindakan perundungan dapat menimbulkan dampak yang sangat serius. Karena itu, Ibu mengingatkan agar kalian tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti atau membahayakan teman, meskipun hanya dianggap sebagai candaan,” ujar Miskina.

Miskina mengingatkan peserta didik agar tidak menjadikan kekerasan fisik maupun perkataan yang menyakiti orang lain sebagai bahan lelucon. Menurutnya, tindakan yang dianggap sebagai permainan dapat berisiko membahayakan keselamatan orang lain apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Ia juga menyinggung berbagai pemberitaan mengenai perundungan yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak. Karena itu, peserta didik diminta untuk lebih berhati-hati dalam bergaul, saling menghargai, serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan teman.

“Pernah terjadi suatu peristiwa ketika seorang anak hendak duduk, kemudian kursinya ditarik oleh temannya hingga terjatuh. Peristiwa seperti ini tidak boleh dianggap sebagai permainan biasa karena dapat menyebabkan cedera serius. Kita harus memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Jangan sampai sesuatu yang kita anggap lucu justru membahayakan orang lain,” lanjutnya.

Dalam tausyiahnya, Miskina menegaskan bahwa kegiatan bermain harus dilakukan secara wajar, sesuai tempat dan waktunya. Ia menekankan bahwa kecerdasan dan prestasi akademik harus berjalan seiring dengan perilaku yang baik. Sebab, ilmu yang tinggi perlu didukung oleh adab dan akhlak mulia agar dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Ibu berharap kalian dapat menempatkan kegiatan bermain sesuai tempat dan waktunya. Kalian datang ke madrasah bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk dididik menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia. Setinggi apa pun ilmu seseorang, apabila tidak disertai adab dan perilaku yang baik, maka ilmu tersebut belum memberikan nilai yang utuh. Karena itu, hormatilah guru, sayangi teman, dan jangan pernah menyakiti orang lain,” tegasnya.

Usai Tausyiah, Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk memohon keberkahan ilmu, kelancaran proses pembelajaran, kesehatan dan keselamatan seluruh keluarga besar madrasah, serta kemudahan dan keberkahan rezeki bagi para orang tua peserta didik . (AR@Z)

0 Komentar

Leave a Comment